SNS AL_Hadi

Bersama berbagi pengalaman

Tafsir Al-Qur’an

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kesempatan kepada kami, Wisatahati, untuk menyampaikan kepada umat kandungan Alqur`an yang kami kutip dari beberapa kitab tafsir yang diakui antara lain Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim karangan Ibnu Katsir, Ad-Durr al-Mantsuur fii at-Ta`wiil bi al-Ma`tsuur karangan Jalaluddin Assayuthi, Aysar at-Tafaasiir karangan Abu Bakar al-Jazairi, Jaami’ al-Bayaan fii Ta`wiil al-Qur`aan karangan Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tafsiir al-Maraaghi karangan Ahmad Mushthafa al-Maraghi. Kami menyadari keterbatasan kami dalam bidang ini, namun demi sampainya ajaran-ajaran dan tuntunan Alqur`an kepada umat kami berupaya semaksimal mungkin untuk menghadirkan kandungan Kitab Suci ini di hadapan umat dengan bahasa yang sederhana.
Penyampaian tafsir ini kami lakukan dengan mengikuti urutan ayat-ayat dan surah-surah di dalam Kitab Suci Alqur`an. Setiap ayat yang akan kami tafsirkan terlebih dahulu kami tulis teks ayatnya dengan disertai terjemahnya yang kami kutip dari Alqur`an dan Terjemahnya yang disahkan oleh Departemen Agama R.I.
Mudah-mudahan rubrik sederhana ini dapat memberi manfaat yang besar bagi kita semua. Kritik dan saran Anda akan sangat berarti bagi peningkatan rubrik ini. Terimakasih dan salam Wisatahati.

(1). Surah al-Fatihah:

(1). Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Bismillah dijadikan sebagai ayat pertama dari seluruh ayat Alqur`an yang berjumlah 6236 ayat. Hal itu mengajarkan kita bahwa sepanjang hidup kita yang berpedoman kepada Alqur`an harus memulai setiap kegiatan dan aktifitas kita dengan mengucap bismillah untuk memohon pertolongan Allah agar bisa menunaikan setiap pekerjaan secara baik dan mendapat berkah.
Bagi setiap orang yang hendak membaca surah Alqur`an dianjurkan untuk membaca bismillah terlebih dahulu sekalipun di dalam shalat, kecuali ketika hendak membaca surah at-Taubah maka tidak dianjurkan membacanya.
Disunnatkan pula membaca bismillah ketika hendak makan, minum,mengenakan pakaian, ketika memasuki dan keluar dari masjid, ketika menaiki kendaraan, dan ketika hendak mengerjakan pekerjaan apa saja yang baik sekalipun tidak penting. Rasulullah saw. bersabda: “Setiap urusan yang tidak diawali dengan membaca bismillah hasilnya akan kehilangan keberkahan”. (al-Jaami’ al-Shaghiir)
Allah adalah nama Zat Yang Maha Suci yang patut disembah dengan sebenar-benarnya dan berhak dipuji dan ditaati. Tidak ada selain Allah swt. yang berhak dipuji dan disembah karena selain Dia adalah makhluk-Nya.
Al-rahmaan al-rahiim. Kedua kata tersebut mempunyai arti yang berbeda meskipun keduanya berasal dari kata al-rahmah. Al-rahmaan berarti pemberi rahmat kepada seluruh makhluk-Nya tanpa membedakan antara makhluk berakal dan yang tidak, antara manusia yang baik dan yang jahat, antara yang beriman dan yang tidak. Akan tetapi rahmat yang diberikan itu merupakan rahmat-rahmat yang kecil dan rendah seperti susunan tubuh, makan-minum, istri, anak keturunan, kesehatan, kekayaan, dan lain-lain yang sifatnya duniawi. Al-rahiim mengandung arti pemberi rahmat terbesar yang tidak dapat dinilai dengan seluruh harta-kekayaan dan kekal abadi. Rahmat tersebut berupa hidayah atau petunjuk ke jalan yang lurus yang mengantarka seseorang kepada beriman kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, kemudian di akhirat disediakan surga oleh Allah swt. dengan berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlintas dalam bayangan manusia. Bahkan hanya rahmat Allah-lah yang akan menghantarkan seseorang masuk ke dalam surga sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Tidak seorangpun yang akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah”. Para sahabat bertanya: “Bahkan engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Bahkan saya kecuali apabila Allah swt/ melimpahkan rahmat-Nya kepada saya”. (HR. Ahmad).


(2). Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pada ayat kedua dari surah al-Fatihah ini Allah swt. menyatakan bahwa semua bentuk pujian, keagungan, dan kesempurnaan hanya milik Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesuatu yang menyamainya karena Dia-lah Tuhan segala sesusatu dan Pencipta segala sesuatu serta Pemiliknya. Rabb (Tuhan) berarti Tuhan Yang ditaati, Yang Memiliki, dan Yang Memelihara. ‘Aalamiin (semesta alam): Semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam seperti alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah swt. Pencipta semua alam itu.
Dan kita sebagai hamba-Nya senantiasa wajib memuji-Nya.
Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Nawwas bin Sam’an ia berkata: “Suatu hari onta Rasulullah saw. dicuri, maka ia bersabda:’Apabila Allah awt. mengembalikan onta saya maka saya akan bersyukur kepada-Nya’. Tidak lama kemudian onta itu berada di salah satu kabilah yang terdapat di dalamnya seorang wanita muslimah. Wanita tersebut merencanakan untuk mengambil onta itu dan berlari meninggalkan kabilah itu. Pada saat orang-orang di kabilah itu terlelap tidur ia berlari dengan onta dan tiba di Madinah pagi hari. Ketika kaum muslimin Madinah melihat onta Rasulullah mereka sangat gembira dan langsung memberitahukan Rasulullah saw. bahwa onta yang hilang telah kembali. Ketika Rasulullah saw. melihat ontanya kembali ia mengucapkan: “Alhamdulillah”. Para sahabat menanti Rasulullah apakah ia akan melaksanakan puasa atau shalat sebagai tanda syukurnya kepada Allah swt. Namun mereka tidak menyaksikan sesuatu dari Rasulullah sehingga mereka menyangka bahwa Rasulullah saw. lupa. Maka mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, engkau pernah mengatakan bahwa apabila Allah swt. mengembalikan ontamu maka engkau akan bersyukur kepada Allah’. Rasulullah menjawa:’Bukankah saya telah mengucapkan alhamdulillah?”
Tirmidzi, Nasa`i, dan Ibnu Majjah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata: “Rasulullah bersabada: ‘Dzikir yang paling utama ialah laa ilaaha illallaah, sedangkan do’a yang paling utama ialah alhamdulillah’.

(3). Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Selain penjelasan yang telah dikemukakan mengenai ayat ini, perlu juga kami jelaskan bahwa kedua nama atau sifat rahmaan dan rahiim Allah ini menunjukkan bahwa ketuhanan Allah adalah ketuhanan yang penuh rahmat dan kebaikan bukan ketuhanan yang hanya menunjukkan kekuasaan-Nya dan pemaksaan-Nya. Sedangkan siksaan yang diancamkan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat kepada orang-orang yang tidak mentaati-Nya itu merupakan salah-satu bentuk pendidikan dari Allah kepada manusia agar mereka mau mengikuti jalan yang sudah digariskan oleh Allah untuk menghantarkan mereka kepada kesejahteraan hidup didunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. Sebagaimana seorang guru atau seorang bapak yang menjanjikan anaknya hadiah atau suatu pemberian kalau ia patuh dan mengancamnya apabila ia membangkang.


(4). Yang menguasai hari pembalasan.

Maalik (dengan memanjangkan miim), artinya Pemilik. Dapat pula dibaca malik (dengan memendekkan miim), artinya: Raja. Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalnya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin mengandung arti pula yaumulqiyaamah (hari kiamat), yaumulhisaab (hari penghitungan), yaumuljazaa’ (hari pembalasan), dan sebagainya.
Allah swt. Penguasa di hari kiamat, hari di mana manusia diperhitungkan seluruh amal perbuatannya, yang baik dan yang buruk untuk diberikan balasannya. Dia-lah yang mengatur secara menyeluruh segala urusan di hari itu sehingga tidak seorangpun mengaku dirinya dapat bersekutu dengan Allah dalam mengurusi pada hari itu. Tidak seorangpun yang berani angkat bicara kecuali dengan seizin Allah swt. Semua manusia di hari itu sama di sisi-Nya, para raja, rakyat jelata, yang kaya dan yang miskin, semuanya tunduk di bawah keagungan-Nya, semua menanti untuk diperiksa oleh-Nya, berharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Bahkan mulut-mulut manusia yang ketika di dunia pandai bicara dan berbohong untuk menutupi kesalahan-kesalahannya pada hari itu terkunci rapat, tidak dapat mengeluarkan sepatah-katapun. Yang berbicara saat itu justru anggota-anggota badannya dengan mengakui setiap perbuatan yang telah dilakukannya. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.(QS. Yaasiin: 65). “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.(QS. Fushshilat: 20-21).
Kehidupan di dunia memang untuk bekerja dan mencari bekal untuk kehidupan abadi di akhirat bukan untuk menerima balasan yang sempurna. Oleh karena itu bisa terjadi bahwa ada orang-orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan mengikuti hawanafsunya akan tetapi nampaknya mereka tidak merasakan akibat buruk dari tindakan-tindakan mereka itu. Sebaliknya banyak orang yang mengisi kehidupannya di dunia ini dengan taat dan patuh kepada Allah akan tetapi nampaknya mereka tidak memperoleh balasan dari amal-soleh mereka itu. Hanya di akhirat nanti setiap manusia akan menerima dengan sempurna balasan dari setiap perbuatan mereka yang baik maupun yang buruk sekecil apapun perbuatan tersebut.
Setiap muslim yang membaca ayat ini (al-Fatihah: 4) pada setiap raka’at shalatnya akan terbayang kepada hari kiamat dan kedahsyatannya sehingga mendorongnya untuk melakukan persiapan-persiapan dengan beramal soleh dan berhenti melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

(5). Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Menyembah artinya ketundukan dan kepatuhan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran dan keagungan yang disembah. Perasaan itu muncul karena ada keyakinan bahwa yang disembah itu mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadap diri penyembah meskipun ia tidak mengetahui hakikat yang disembah karena keterbatasan pikirannya. Berbeda halnya dengan orang yang tunduk dan patuh kepada seorang penguasa. Ia tidak dikatakan menyembahnya karena jelas ketundukan dan kepatuhannya bukan karena adanya keyakinan bahwa sang penguasa mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadap dirinya, akan tetapi karena ia takut akan kezalimannya atau karena mengharap kebaikannya saja.
Bentuk dan tata-cara ibadah berbeda antara satu agama dengan agama yang lain dan dari masa ke masa. Namun semuanya bertujuan untuk mengingatkan manusia terhadap kekuasaan yang mutlak tersebut dan untuk membentuk akhlak serta kepribadian yang terpuji. Sebagai contoh ibadah shalat yang tujuan perintahnya antara lain adalah mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar. Apabila pelaksanaan shalat tersebut tidak menghantarkan pelakunya kepada tujuan di atas maka shalat yang ia kerjakan hanya merupakan gerakan fisik dan ucapan lisan yang hampa dari ruh dan hakikat shalat sebenarnya. Demikian pula puasa yang diperintahkan antara lain untuk membentuk pribadi muslim yang bertakwa. Apabila pelaksanaan ibadah puasa tidak menyampaikan pelakunya kepada tujuan di atas maka ia tidak akan memperoleh sesuatu dari puasanya selain rasa lapar dan haus saja.
Pada ayat di atas Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk menyembah hanya kepada-Nya, karena hanya Dia-lah penguasa mutlak. Demikian pula Allah memerintahkan mereka untuk meminta pertoloangan hanya kepada-Nya, karena hanya Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Setiap perbuatan keberhasilannya tergantung kepada hubungan kausalitas antara sebab dan akibat yang diciptakan oleh Allah swt. Manusia diberikan kemampuan untuk mengupayakan sebagian dari sebab-sebab tersebut. Seperti melakukan pengobatan bagi orang yang sakit, mempersiapkan senjata dan kekuatan untuk menghadapi musuh, menanamkan bibit di dalam tanah dan memberinya pupuk serta menyiraminya dengan air, dan sebagainya untuk mendapat hasil yang memuaskan. Namun di balik sebab-sebab yang nampak ada sebab-sebab yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia. Dalam hal inilah manusia dituntut untuk meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa untuk mencapai keberhasilannya. Dan Allah swt menjanjikan setiap orang yang meminta kepada-Nya pasti Dia akan memberikannya. “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”(QS. Al-Baqarah: 186).
Orang yang mencari pertolongan kepada selain Allah, seperti mendatangi makam orang yang saleh dan meminta kepadanya untuk dimudahkan urusannya, atau disembuhkan penyakitnya, atau diselamatkan dari bahaya yang mengancamnya, dan sebagainya orang tersebut telah menempuh jalan yang sesat dan mensekutukan Allah yang termasuk dosa terbesar.
Ayat di atas mengajarkan kita bahwa setiap hamba Allah harus meminta pertolongan hanya kepada Allah ketika hendak melakukan setiap pekerjaan yang di dalamnya terdapat ikhtiar manusia. Tidak akan tercapai secara maksimal pekerjaan yang dilakukan hanya mengandalkan otak dan otot manusia saja. Demikian pula keliru kalau seseorang hanya menunggu pertolongan Allah saja tanpa ada upaya apapun dari dirinya. Keduanya harus dipadukan, yaitu memohon pertolongan Allah dan upaya secara maksimal. Itulah penerapan tawakal yang merupakan bagian dari tauhid dan ibadah murni kepada Allah. Ayat di atas mengandung isyarat pula bahwa sebelum memohon pertolongan kepada Allah dekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah dan berbagai amal saleh sehingga pertolongan-Nya akan lebih cepat diberikan.
Di dalam bukunya ‘Mencari Tuhan yang Hilang’ Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan tentang kemusyrikan dan meminta pertolongan kepada selain Allah sebagai berikut: Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering menemukan istilah ‘pemake’. Orang yang sering pergi ke dukun, paranormal, atau bahkan ke ‘kiyai khurafat’ bisa dipastikan ia mempunyai ‘pemake’. Bentuknya bermacam-macam, bisa berupa jimat, isim, batu, keris, dan sebagainya, hingga potongan kain berisi ayat-ayat Alqur`an yang diyakini dapat membawa suatu kekuatan. Alasan pembenaran pemakaian benda-benda itu adalah sebagai media transfer kekuatan metafisik, selain sebagai media komunikasi dengan Tuhan; “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar: 3).
Mereka yang meminta pertolongan kepada selain Allah, atau menggantungkan diri pada ajimat dan benda-benda keramat sesungguhnya hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia, membuang-buang uang, tenaga dan pikiran, karena dipaksa harus beli minyak ini, minyak itu, wafak, sabuk, keris, dan segala jimat yang diakuinya sakti. Bahkan kalaupun gagal satu kali orang yang demikian biasanya tetap menjalankan usahanya yang sesat itu hingga berkali-kali. Tanpa disadari, mereka pada saat itu telah menjadi budak dari perbuatan tersebut. Mereka merasa wajib untuk membawa jimat kemanapun mereka pergi. Ditambah lagi perawatan benda-benda itu yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan belum lagi untuk ongkos perjalanan. Jika ternyata yang dituju tidak kesampaian maksudnya, seperti mobilnya yang hilang tidak kunjung ketemu, atau anak dan istrinya yang tidak ketahuan rimbanya tidak kunjung kembali, atau kedudukan yang diincarnya direbut orang, dengan entengnya mereka yang mengajari bilang: “Sabar saja, mungkin Yang Maha Kuasa belum menghendaki, kita bisa apa sih? Semua kan tergantung dari Yang di Atas”.
Waaah….. enak benar, sudah gagal nyalahin Allah (baca: mengembalikan lagi kepada Allah). Itulah ulah para penipu, mereka hanya ingin uang. Kemampuannya? Nol besar. “Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam mentaati Allah. (QS. Luqman: 33)
Penulis teringat kembali akan pengalamannya. Dulu, ia pernah mengadukan permasalahannya kepada seorang kiyai di daerah Jawa Barat. Kiyai ini diklaim ‘ampuh/sakti’ oleh orang banyak. Nyatanya, setelah menghabiskan uang banyak, nol besar yang didapatnya. Masalahnya tetap saja tidak berubah, dan akhirnya penulis disuruh tetap bersabar.
Ditamsilkan Allah bahwa perbuatan syirik bagaikan minta pertolongan kepda laba-laba. Coba kita perhatikan sarang laba-laba. Setiap yang datang kepadanya justru akan terjerat, tidak dapat meloloskan diri. Kemudian apa yang terjadi? Mati! Maka demikianlah keburukan menduakan Allah, bahwa perbuatan tersebut kan menimbulkan dampak kerusakan pada kehidupan seseorang, baik si pelaku sendiri maupun orang lain. Dengan kemusyrikan orang akan tega membunuh anaknya sendiri, memorat-maritkan keutuhan keluarga, dan akan membuahkan penyakit dan hal-hal buruk lainnya. “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Ankabut: 41-42)
Jangan bodohlah kita jadi manusia. Masa kita yang berakal ini bisa percaya dengan sesuatu yang tidak berakal? Masa kita yang mengaku manusia, sedang manusia itu lebih mulia, lalu mau saja menghamba pada setan? Kenapa tidak kita hadapkan saja seluruh persoalan hidup kita kepada Yang Maha Memiliki kehidupan?
Berikut ini beberapa ciri yang kerap ditemukan di dalam kehidupan orang-orang yang tenggelam dalam kemusyrikan. Meski demikan jangan juga memvonis bila ada sahabat dan kawan yang juga mengalami beberapa ciri di bawah ini bahwa ia adalah pelaku kemusyrikan. Belum tentu. Situasi yang terjadi pada satu orang belum tentu sama statusnya dengan yang lainnya pada kasus contoh yang sama, sementara yang satu azab, bisa jadi bagi yang lain kasusnya adalah ujian dari Allah. Tapi bolehlah kita berpikir jangan-jangan apa yang kita keluhkan sebagai azab, agar ada koreksi diri. Karena apa yang disebut di sini hanyalah untuk media muhasabah untuk diri kita sendiri. Inilah indikasi pelaku kemusyrikan yang dimaksud (ingat, ini hanya untuk media muhasabah diri).

1. Kondisi fisik keluarga yang rapuh (diselimuti berbagai penyakit), baik orang tua maupun anak-anaknya. Inilah yang dimaksud dengan ‘membunuh anak dan keluarga’. Yakni membuat badan mereka menjadi rentan dengan penyakit, dan lebih sering menjadi yang paling merasakan susahnya (kita yang berbuat syirik, anak dan keturunan yang ikut kena getahnya).
2. Keluarga terus dihantam persoalan-persoalan yang rumit yang tak kunjung selesai.
3. Ada kelainan jiwa yang menghantam salah seorang anggota keluarga.
4. Hubungan suami istri yang tidak harmonis, dan terancam perceraian.
5. Kemelaratan yang lebih parah dan kesusahan yang hanya bertambah-tambah.
6. Perasaan haus untuk terus-menerus bergantung terhadap apa yang mereka yakini, sehingga melanggengkan perbuatan kemusyrikan.

Penyebab utama berlakunya ciri-ciri kesusahan di atas karena mereka telah menjauhkan diri dari rahmat Allah, sehingga malah dekat dengan azab.
Penjelasan singkatnya begini, sejatinya Allah ‘kan Maha Melindungi; melindungi dari apa saja, di antaranya melindungi dari setiap bahaya yang mengancam. Tetapi begitu Dia mau menolong, Dia melihat kita memiliki tuhan yang lain. Akhirnya Dia biarkan, tidak Dia lindungi.
Saudara…. bila kita sempat dan atau saat ini masih tenggelam dalam kemusyrikan yang kelihatannya samar ini (apalagi kemusyrikan terang-terangan), hendaknya merenungkan hal ini lebih dalam lagi. Karena syirik adalah suatu perbuatan yang sangat berat pertimbangan Tuhan untuk mengampuni ketimbang dosa yang lain. (Lihat QS. An-Nisa: 48)
Untuk Anda yang sudah menggeluti dunia kemusyrikan tetapi belum merasakan azab sebagaimana disinggung di atas bolehlah berpikir; jangan-jangan itu adalah ‘kesempatan’ yang diberikan Allah agar dosa-dosa kita bertambah, hingga kemudian bertambah beratlah hukuman kita.
Supaya datang pertolongan Allah, bersegeralah melepaskan diri dari perbuatan buruk, dan adakan perjanjian baru dengan Allah melalui pembaharuan syahadat yang kemudian dibumikan dan bertobat.
Ada fenomena menarik (tapi sesat) yang pernah terjadi – dan mungkin masih berlangsung, bahkan dalam bentuknya yang semakin inovatif dan berani- di masyarakat saat ini, yaitu meminta bantuan kepada jin. Motifnya bermacam-macam, mulai dari meminta jaminan keamanan, ilmu kekebalan, membantu kelancaran usaha, mengembalikan keharmonisan rumah tangga, dan sebagainya.
Sebenarnya itulah gambaran kondisi masyarakat kita saat ini yang sedang labil, mudah menerima suatu paham. Sebagian masyarakat kita gampang putus asa dan putus harapan ketika berhadapan dengan permasalahan pelik sehingga dengan mudah menerima suatu hal tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Ditambah sebagian masyarakat kita juga lebih senang kepada sesuatu yang serba instan, serba cepat. Kelemahan masyarakat inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk memetik keuntungan. Andai mau sedikit berpikir rasional dan kembali kepada Alqur`an pasti mereka tidak akan mudah terpedaya. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Luqman: 22).
Dalam ayat tersebut di atas dinyatakan secara gamblang oleh Allah bahwa ketika gamang, ketika gelisah, ketika susah, dan ketika menghadapi permasalahan maka yang terbaik adalah:

1. Menyerahkan segala persoalan kepada Allah.
2. Berbuat kebaikan untuk mengiringi kepasrahan tersebut.

Ada satu hal yang menarik di sini, terutama bagi Anda yang memiliki permasalahan. Menurut ayat tersebut tidak usahlah kita pikir bagaimana jawaban dari permasalahan kita. Biarkan saja. Kadang semakin dipikir semakin runyam pikiran kita. Lakukan saja pengimbangan, lakukan saja penebusan masalah. Yaitu yang pertama dan yang terpenting kita lakukan adalah pasrahkan saja kepada Allah, kemudian melakukan kebaikan yang kira-kira setara untuk menebus dan mengimbangi permasalahan yang terhidang di depan mata. Biasanya memang dengan dua langkah tersebut seseorang akan selamat dari kepanikan dan kekuatiran (karena sudah dipasrahkan kepada Allah permasalahannya). Sudah begitu ia juga punya asuransi keselamatan dan garansi adanya jawaban permasalahan yang dihadapi (karena melakukan kebaikan sebagai penawar keburukan). Dan inilah yang disebut Allah sebagai sebuah pegangan yang teguh (al-‘urwatul wutsqa) bagi mereka yang menginginkan sebuah pegangan dalam mengarungi kehidupan. Jadi yang disebut pegangan itu bukanlah barang-barang syirik/perilaku kemusyrikan.
Ketiadaan tauhid yang menyebabkan manusia meminta tolong kepada selain-Nya. Padahal, andai di mungkinkan untuk meminta bantuan kepada jin dan atau bisa mendatangkan kekebalan tentulah Rasulullah yang menjadi orang pertama yang diberi fasilitas tersebut. Kenyataannya gigi beliau pernah tanggal pada waktu perang Uhud. Dan menantu Nabi, yang juga sahabatnya, Imam Ali r.a. terkena panah di bagian perutnya.
Ada pengalaman menarik, sewaktu penulis mengikuti Ustadz Basuni roadshow keliling kota di Indonesia, membuka Klinik Spiritual dan Konseling. Syahdan, datang seorang istri yang membawa suaminya yang menderita diabetes yang akut/parah. Menurut pengakuan keduanya penyakit ini sudah hampir tujuh tahunan dijalani tanpa ada kemajuan berarti. Beragam dokter dan rumah sakit dikunjungi, beragam pengobatan alternatif dicoba, hasilnya nihil. Setelah dilakukan permuhasabahan atas penyakitnya, mengapa penyakit ini sampai datang, keluarlah pengakuan bahwa selama ini sang suami adalah pelaku kemusyrikan. Dia memiliki banyak benda pusaka dan beragam ajimat untuk ini dan itu. Dan percaya atau tidak setelah diadakan perlepasan diri (benda-benda syirik dibuang) dan dilakukan inabah, lalu disertai dengan melakukan suatu amal saleh (seperti sedekah dan puasa) untuk memperkuatnya, dia sembuh dalam tempo kurang lebih dua bulanan. tanpa bantuan obat sama sekali.
Lalu apa yang si bapak lakukan?

1. Setelah ketahuan bahwa dia melakukan perbuatan syirik ia bertobat, minta ampun kepada Allah.
2. Berlepas diri dari pengaruh syirik tersebut yang menggerogoti fisiknya dengan memohon dan menyatakan suatu kalimat pelepasan.
3. Menebusnya dengan amal saleh. Waktu itu si bapak memilih puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari berbuka, dan mengambil anak asuh. Dengan sebelumnya memotong kambing dan mengeluarkan infak dan sedekah). Dan amalan saleh lainnya yang dijadikan kendaraan kesembuhan bagi si bapak tersebut zikrullah, berzikir lisan dan qalbu.
4. Tidak kembali lagi ke perbuatan syirik tersebut.

Lalu apa yang dilakukan Ustadz Basuni dalam menyembuhkan si bapak? Ternyata Ustadz Basuni cuma membantu saja si bapak untuk berproses bertobat. Itu saja. Selebihnya si bapak sendiri yang harus berusaha menyembuhkan dirinya dengan memohon pertolongan Allah.
Sesederhana itukah? Memang sederhana. Kuasa Allah kalau sudah hadir, kuasa Allah kalau sudah turun apa yang tidak mungkin? Apa yang mustahil? Tidak ada. Semuanya mungkin-mungkin saja kalau Allah sudah berkehendak.
Bagi Anda yang tidak percaya bahwa proses inabah bisa menghilangkan penyakit tanpa berobat, tidak ada halangan untuk tetap berobat. Sebab iapun adalah sebuah ikhtiar yang insya Allah tidak menyalahi aturan. Hanya yang mau digarisbawahi adalah percuma melakukan serangkaian terapi medis bila kesalahan demi kesalahan (dari hubungan antara manusia dengan Allah, menusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya) belum ditobati dan belum diperbaiki. Istilahnya, oleh Allah, usaha penyembuhannya tidak diridhai. Wallaahu a’lam.

(6). Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Petunjuk Allah bermacam-macam:

1. Petunjuk dalam bentuk ilham dan perasaan, seperti yang Allah berikan kepada bayi sejak ia dilahirkan ke dunia ini dan kepada hewan.
2. Petunjuk dalam bentuk akal dan pikiran yang hanya diberikan kepada manusia agar dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.
3. Petunjuk agama yang merupakan pemberian Allah yang paling berharga kepada para hamba-Nya karena akan menyelamatkan mereka semenjak kehidupan di dunia hingga akhirat nanti.
4. Petunjuk yang berarti taufik dan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk melakukan amal-soleh. Petunjuk inilah yang Allah perintahkan kepada kita untuk senantiasa meminta kepada-Nya agar selalu dapat mengikuti jalan yang telah digariskan oleh Allah dan terhindar dari kesalahan dan kesesatan.

(7). (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang telah dibe ri nikmat ialah para nabi atau rasul dan orang-orang yang bukan nabi atau rasul akan tetapi setia mengikuti ajaran-ajaran yang di bawa oleh para nabi dan rasul. Allah memerintahkan kita untuk mengikuti jejak dan langkah para nabi dan rasul karena pada prinsipnya agama Allah hanya satu sepanjang masa yaitu percaya kepada Allah, percaya kepada Rasul-Nya, dan percaya kepada hari kiamat serta memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan. Adapun yang berkaitan dengan syariat dan hukum ia berbeda dari masa ke masa dan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah orang-orang Yahudi sedangkan orang-orang yang sesat ialah orang-orang Nasrani. Kedua golongan tersebut sama-sama sesat dan dimurkai, akan tetapi kemurkaan lebih melekat kepada golongan Yahudi karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka tinggalkan bahkan mereka tutup-tutupi. Sedangkan golongan Nasrani tidak memperoleh kebenaran karena mereka enggan mengikuti petunjuk-petunjuk yang dibawa oleh para nabi dan rasul.
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi bahwa Wail bin Hajar al-Hadhrami berkata: “Saya mendengar Rasulullah ketika selesai membaca al-Fatihah membaca ‘aamiin’ dengan memanjangkan suaranya”.
Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin’ ucapkanlah ‘aamiin’, niscaya Allah akan memperkenankan permintaan kalian”
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya bangsa Yahudi adalah bangsa yang pendengki, mereka dengki terhadap kalian karena tiga perkara yaitu menebarkan ucapan salam, meluruskan barisan dalam shalat, dan ucapan aamiin.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila imam mengucapkan ‘aamiin’ maka kalian ucapkan pula ‘aamiin’, sesungguhnya apabila ucapan kalian itu bertepatan dengan ucapan para malaikat maka dosa-dosa kalian yang terdahulu akan diampuni”.
Oleh karena itu apabila kita menjadi ma’mum dalam shalat berjama’ah, ketika imam membaca al-Fatihah dengan suara keras hendaklah kita mendengarkannya dengan baik. Yang perlu diperhatikan ialah ketika imam selesai membaca al-Fatihah dengan “waladhdhaalliin” janganlah kita langsung menyebut ”aamiin”, akan tetapi tunggu imam menarik nafasnya lalu membaca “aamiin”, barulah kita para ma’mum menyebut “aamiin”. Dengan demikian aamiin kita bisa bersamaan waktunya dengan aamiin imam dan semoga tepat pula dengan aamiin para malaikat.
…………berlanjut…………
sumber ” wisatahati.com

26 November 2009 - Posted by | Agama, islam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: