SNS AL_Hadi

Bersama berbagi pengalaman

depresi

Dalam dua pekan terakhir ini tercatat ada lima kasus bunuh diri terjadi di Jakarta. Para pelaku bunuh diri rata-rata memilih gedung tinggi sebagai tempat ideal untuk melakukan “terjun bebas”.

Direktur Rumah Sakit (RS) Jiwa Soeharto Heerdjan, Ratna Mardiyati menyatakan fenomena bunuh diri yang kerap terjadi di ibu kota dalam dua pekan terakhir ini salah satunya diakibatkan oleh depresi tingkat tinggi yang ada di dalam diri si pelaku aksi bunuh diri.

“Depresi yang berlebihan dalam diri seseorang menjadikan adanya dorongan kuat untuk bunuh diri,” ujar Ratna ketika dihubungi Republika, Rabu (16/12).

Disamping tingginya kadar depresi dalam diri pelaku, Ratna juga mengatakan, faktor pemberitaan di media massa yang mempertontonkan adega bunuh diri dengan cara melompat dari gedung tinggi juga secara tidak langsung berdampak negatif.

“Mereka (pelaku aksi bunuh diri) melihat contoh cara orang bunuh diri dari media, kemudian berniat untuk mengikuti cara itu (melompat dari gedung tinggi). Mereka meniru caranya, apalagi caranya terbukti berhasil,” urai Ratna.

Seperti diketahui, aksi bunuh diri dalam dua pekan terakhir seakan menjadi tren di ibu kota. Tercatat lima orang menjatuhkan diri dari gedung tinggi dan pusat perbelanjaan. Aksi bunuh diri diawali oleh Ice Juniar (24 tahun) yang menjatuhkan diri dari mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada pukul 15.30 WIB pada Senin (30/11). Di hari yang sama, malamya aksi serupa dilakukan oleh Reno Fadillan Hakim (25) di Senayan City.

Selanjutnya aksi bunuh diri dilakukan Richard Kurniawan (35) di Mangga Dua Square, Jakarta Utara pada Jumat (4/12). Disusul aksi serupa oleh Yani Setiani(22) yang melompat dari Apartemen Gading River View, Jakarta Utara pada Senin (14/12). Yang terakhir dugaan bunuh diri dilakukan Lindasari (34) di Apartemen Istana Harmoni, Jakarta Pusat pada Selasa (15/12).

Mereka yang nekat melakukan bunuh diri, imbuh Ratna, biasanya memiliki kepribadian yang tertutup. “Rata-rata mereka itu sikapnya intovert. Mereka juga tidak memiliki tempat atau kesulitan akses untuk menumpahkan unek-unek alias curhat,” tukas Ratna.

Ratna juga menambahkan, mereka yang melakukan tindakan bunuh diri, biasanya dari jauh-jauh hari sudah merencanakan aksi tersebut. Menurutnya, tindakan bunuh diri tidak ada yang dilakukan secara tiba-tiba.

“Oleh sebab itu, tindakan pencegahan aksi bunuh diri sebaiknya dilakukan. Mereka yang nekat bunuh diri biasanya melakukan geark-gerik yang aneh dan terlihat gelisah. Saat hal itu terjadi, sebaiknya pihak keluarga atau orang dekat memberikan support kepadanya. Jika sudah tidak bisa diatasi berulah menyarankannya mengunjungi psikolog
sumber republika

18 Desember 2009 - Posted by | posting | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: