SNS AL_Hadi

Bersama berbagi pengalaman

Pemimpin dalam Pandangan Islam

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]: 269,

” Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Hikmah dalam ayat tersebut berarti kebaikan yang banyak, yang dianugerahkan Allah SWT kepada seseorang sehingga dirasakan manfaatnya, baik oleh diri, keluarga, masyarakat dan bangsa, juga alam semesta. Ayat tersebut menjelaskan pula bahwa orang yang banyak kebaikannya itu termasuk kelompok cendekiawan Muslim (ulil albaab ).
Keahlian / kecendekiaan seorang umat manusia tidak hanya ditentukan oleh ilmunya, akan tetapi oleh perbuatan atau kebaikan-kebaikan dari peng-amalan dari ilmu yang dimilikinya.
Bsegitu pula dengan pemimpin yang memiliki hikmah.
Dari kepemimpinannya itu, dapat dirasakan kebaikan, kemaslahatan, dan keadilan oleh masyarakat yang dipimpinnya. sehingga kalau seorang pemimpin sudah memiliki jiwa yang penuh kebaikan, kemaslahatan maka insya Alloh di cintai oleh rakyatnya dan selalu di doakan oleh rakyat, sehingga dapat terhindar dari hal hal yang bisa menjerumuskanya.
bagaimana ciri pemimpin yang memiliki hikmah, sebagaimana dijelaskan para ulama ketika menafsirkan ayat di atas, yaitu:

Pertama, kasrotun ‘ilmi , atau memiliki berbagai macam pengetahuan. Di antaranya, ilmu yang berkaitan dengan keahlian tertentu; juga ilmu-ilmu humaniora, seperti teknik berkomunikasi dan psikologi massa. Ia menolak hidup mewah, atau memberikan kemewahan pada pembantunya di saat masyarakat sedang mengalami berbagai macam kesulitan hidup.

Kedua, kasrotul hilmi , atau memiliki kesabaran dan kedewasaan yang matang, tidak mudah mengeluh dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Pemimpin yang memiliki hikmah justru akan menjawab dan membalas setiap ketidakbaikan dengan kebaikan. Cemoohan dibalas dengan introspeksi diri dan kerja keras untuk membuktikan ketidakbenaran cemoohan tersebut. Itulah pula yang digambarkan Allah SWT pada surah Fussilat [41]: 34-35.

Ketiga, kasrotul unah , atau memiliki kehati-hatian dan kewaspadaan, baik dalam ucapan apalagi tindakan. Ucapannya terukur, jelas, dan gamblang, tidak sembarangan. Demikian pula, tindakannya selalu memerhatikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi masyarakat

sehingga di akhir kalimat marilah kita mencari pemimpin yang mempunyai tiga ciri seorang pemimpin yang hikmah, sehingga bangsa ini selalu di ridloi oleh Alloh SWT dan terhindar dari mara bahaya yang selalu datang.

24 Februari 2010 - Posted by | Agama, hukum, islam, mentri | , ,

1 Komentar »

  1. Mampu (Profesional) dan Amanah, Mana Prioritas?
    Anda semua tentu menyadari, untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki dua kriteria ini sekaligus, sangat sulit untuk ditemukan. Hingga Syaikhul Islam di halaman lain dalam buku itu menyatakan,

    اجتماع القوة والأمانة في الناس قليل، ولهذا كان عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- يقول: اللهم أشكو إليك جلد الفاجر، وعجز الثقة
    Kemampuan dan amanah jarang bersatu pada diri seseorang. Karena itu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Allah, ”Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu: orang fasik yang kuat (mampu) dan orang amanah yang lemah.”

    Di sinilah Syaikhul Islam menyarankan untuk menerapkan skala prioritas. Mana karakter yang lebih dibutuhkan masyarakat, itulah yang dikedepankan.

    Dalam posisi tertentu, sifat amanah lebih dikedepankan. Namun di posisi lain, sifat mampu dan profesional lebih dikedepankan.

    Syaikhul Islam membawakan riwayat dari Imam Ahmad, ketika beliau ditanya,
    ’Jika ada dua calon pemimpin untuk memimpin perang, yang satu profesional tapi fasik, dan yang satu soleh tapi lemah. Mana yang lebih layak dipilih?’

    Jawab Imam Ahmad,
    أما الفاجر القوي، فقوته للمسلمين، وفجوره على نفسه؛ وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين. فيغزي مع القوي الفاجر
    Orang fasik yang profesional, maka kemampuannya menguntungkan kaum muslimin. Sementara sifat fasiknya merugikan dirinya sendiri. Sedangkan orang soleh yang tidak profesional, maka kesolehannya hanya untuk dirinya, sementara ketidak mampuannya merugikan kaum muslimin. Dipilih perang bersama pemimpin yang profesional meskipun fasik.

    Sebaliknya, jika dalam posisi jabatan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang lebih amanah, sekalipun kurang profesional. Syaikhul Islam menyebutkan,

    وإذا كانت الحاجة في الولاية إلى الأمانة أشد، قدم الأمين؛ مثل حفظ الأموال ونحوها
    Jika dalam kepemimpinan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang memiliki sifat amanah, seperti bendahara atau semacamnya.

    Kemudian, beliau memberikan kesimpulan dalam menentukan pemimpin,
    قدم أنفعهما لتلك الولاية وأقلهما ضررا فيها
    Diutamakan yang lebih menguntungkan untuk jabatan itu, dan yang lebih sedikit dampak buruknya.
    Demikian…

    Disimpulkan dari as-Siyasah as-Syar’iyah, Syaikhul Islam, cet. Kementrian Agama Saudi, th. 1418 H. hlm. 13 – 17.

    Komentar oleh Bang Uddin | 20 April 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: